Tuesday, February 2, 2010

Boy Bukan Playboy


Pernah denger nama-nama ini; Grace, Martini, Dewi, Virya, Inka, Antharini, Dinarza, Penny, Sinta, Titi, Jacky, Rika, Sylvi, dan Aidina?

Banyak juga yah? Gue yakin nggak semuanya familiar di ingatan kamu. Tapi semua nama itu pernah singgah di hati Boy, cowok berumur 21 tahun yang sering di cap playboy.
Sebelum mati-matian membela kalau Boy itu bukan playboy, kita inget-inget lagi yuk kisah cintanya Boy tuh bagaimana.

Boy percaya banget sama yang namanya cinta pada pandangan pertama. Buat Boy cinta itu nggak bisa tumbuh pelan-pelan, yang bisa tumbuh pelan-pelan itu namanya sayang. Rasa sayang yang dipaksa tumbuh perlahan tanpa adanya cinta di awalnya itu mungkin saja, tapi nggak janji akan bikin bahagia. Sedangkan cinta itu bisa sekejap saja muncul saat pertama kali kita melihat seseorang, itu dia yang dirasakan Boy ketika pertama kali melihat Nuke.

Seseorang playboy akan mati-matian memberi kesan hebat saat kencan pertama, tujuannya supaya tuh cewek cepat kepincut. Apakah kehebatan yang ditampilkan itu jujur atau palsu, itu urusan nanti, yang penting rencana jangka pendek terpenuhi. Boy yang jatuh cinta pada pandangan pertama justru sebaliknya. Dia mati-matian menunjukkan kejujurannya.

Masa-masa bersama Nuke memang indah, tapi singkat. Nuke dipisahkan dari Boy oleh Mr. Bo (bokap) dan Mrs. Nyo (nyokap)-nya Nuke, dengan dalih supaya bisa konsentrasi belajar.

Patah hati nggak langsung membuat Boy terjun dari lantai 5 pusat perbelanjaan, justru membuatnya berpikir positif, kalau memang jodoh pasti akan kembali.
Tanpa larut lama dalam kesedihan, sosok cewek cantik berwajah indo masuk di kehidupan Boy, Vera namanya. Boy bertemu Vera saat cewek cantik ini lagi teriak histeris sampai pingsan saat ospek. Dari awal ketemu saja sudah bikin ribet, belum lagi perbedaan prinsip yang mendasar. Boy sadar banget kalau pacaran sama Vera pasti jalan nggak akan mulus-mulus saja seperti waktu sama Nuke. Tapi itu dia tantangannya, perempuan secantik Vera pantas diperjuangkan.

Masih ingat pertama kali Boy ngajak Vera kencan? Kalau dulu Nuke pertama kali diajak Boy makan mie di pinggir jalan, naik mobil tanpa AC, kini Vera diajak makan malam di restoran “Memories” di Wisma Indocement dengan suasana romantis. Boy tahu banget bagaimana menyesuaikan dengan cewek yang lagi dideketinnya, bagaimana bertoleransi, bagaimana membuat cewek ‘keleper-keleper.’ Nggak mungkin dong cewek kayak Vera diajak naik mobil nggak ber AC terus makan di pinggir jalan. Bisa ilfil dia sama Boy!
Tapi kenapa Boy bertindak seperti ini, kenapa berbeda dengan waktu sama Nuke? Kenapa dia harus berusaha memberi kesan baik terhadap Vera? Apakah semata-mata karena ingin menaklukannya? Menjadikannya pelarian?

Nggak semua orang bisa semudah itu atau secepat itu beralih dari satu hubungan ke hubungan yang lain, terutama jika melibatkan perasaan yang mendalam. Ada yang harus benci dulu, ada yang harus sendiri, merenung berbulan-bulan, ada yang melupakan kesedihan dengan memilih kebahagiaan baru. Ini dia yang sering di cap playboy.

Kebahagiaan baru itu sering diasosiasikan dengan ‘pelarian,’ yang biasanya berkonotasi negatif. Padahal pelarian itu nggak selamanya negatif loh. Kalau orang baru bisa membuat kita senang, bahagia, hingga lupa akan kesedihan yang lalu, kenapa kita harus melawannya? Bukankah pelarian itu bisa membuat kita jadi bersemangat?
Lalu bagaimana dengan perasaan si cewek yang jadi pelarian? Kuncinya adalah cari pelarian yang secara fisik kamu suka, yang potensial untuk jadi pacar. Kalau ternyata nyambung, kan pelan-pelan bisa timbul rasa sayang dan bisa ‘bokinan’ beneran. Kalau ternyata nggak nyambung, kan bisa punya alasan untuk pisah tanpa jadi menyakiti.

Seseorang pernah bilang pada gue:

"There's always a hole in your heart, and for you, the only thing who can fill them is someone with skirt!”

Dalam kasus Boy, lubang di hatinya ini adalah porsi untuk mencintai yang nggak ada penyalurannya lagi semenjak ditinggal oleh Nuke. Makanya Boy selalu punya energi untuk mendekati cewek-cewek yang menarik baginya, demi menutup lubang itu. Masuk akal kan kenapa Boy dicap playboy?

Menikmati Catatan Si Boy, berarti menikmati cerita jujur dari seorang yang didaulat sempurna, ganteng, pintar, kaya, soleh, tapi tidak sesempurna itu di departemen cinta. Kisahnya menceritakan kacamata seorang laki-laki yang mudah tertarik pada kharisma seorang perempuan, tapi hanya setia pada satu cinta.

Bagaimana akhir cerita cintanya? Tunggu saja postingan-postingan selanjutnya. Gue gentur (tidur) dulu ye ciiingg!!

5 comments:

  1. Hehe, gue cewe, tapi gue penasaran sm yang namanya Nuke. Tapi yg lebih cool tuh Sadya, ciamik deh jadi cewe! haha te o pe! (pinjem istilah di novel Cabo by Rio Haminoto.

    Buat gue sih Boy itu tetep playboy, yg beriman dan beradab tentunya :)

    ReplyDelete
  2. Ga sabar nunggu buku nya Catatan Si Boy.

    ReplyDelete
  3. ditunggu lanjutannyaahh.... semoga setelah ini, catatan siboy versi radio... di tayangkan kembali.......

    ReplyDelete
  4. reunian lagi sama film ini

    ReplyDelete
  5. SCORE! JAKARTA Presents
    SUNDAY CLASSIC MOVIE "CATATAN SI BOY 1"

    Minggu, 26 Februari 2012 - 16.00wib
    Join us to watch this movie and get a chance to win attractive prize

    FREE ENTRY!!!!!!.........

    Supported by
    KOMUNITAS PECINTA FILM INDONESIA JADUL

    INFO & RSVP :
    Score! Jakarta 021-7592 0279
    Marketing Score! 0813 8738 3891

    ReplyDelete